Salahkah Mengekspresikan Kasih Sayang kepada Hewan?

        Tak jarang tetangga-tetangga gue bilang gini “mas, mas kok kucing aja dicium-cium kaya gitu”, lalu gue menjawab “mereka sudah saya anggap bagian dari keluarga saya pak, buk”. Sambil berlalu biasanya mereka tertawa dan terkadang mengerutkan dahi melihat peristiwa aneh tersebut. Ya, bagi sebagian besar orang apa yang gue lakuin itu adalah tindakan aneh nan langka. Keanehan gue yang lainnya adalah tidak pernah memanggil peliharaan gue dengan “bang, kucing-kucing gue udah dikasih makan belum?”. Gue lebih suka bilang gini “Bang, anak-anak gue sudah dikasih makan belum?”. Kalau kalian yang mendengar dan melihat gue kaya gitu gimana ekspresi kalian?, jangan-jangan sama aja kaya tetangga-tetangga gue tadi, miris deh!. wkwkwkwkwkkk…

_69607

        Huffftttt…dari peristiwa-peristiwa tadi sudah dapat ditarik kesimpulan deh bahwa mindset manusia-manusia kaya gitu tuh perlu dirubah. Mindset kuno yang mengatakan bahwa rasa cinta dan kasih sayang itu cuma lazim diekspresikan ke sesama manusia saja. Sadar atau engga nih kita kan hidup di dunia ini engga sendirian tapi berdampingan dengan makhluk Tuhan yang lainnya. Sudah seharusnya donk kita jaga dan kita lindungi juga mereka dengan sepenuh hati dan setulus cinta. Eitsss…jadi sok bijak gini ya. Ya gimana donk ya gue cuma mau mengutarakan apa yang gue rasa sama tindakan manusia yang diskriminatif sama hewan, kalian jahat!. Engga jahat gimana coba kalo kalian masih gemar dengan hobi kalian berburu hewan liar. Coba deh bayangin kalo yang kalian tembak dengan senapan itu induk burung yang sedang ditunggu anak-anaknya yang kelaparan menanti suapan dari induknya. Bayangin deh kalo rusa yang kalian tembak tadi sedang ditunggu anak-anaknya yang kelaparan minta susu. Duhhh…sorry ya gue mau nangis dulu, bukannya cengeng sih tapi coba kalian posisikan hal tersebut terjadi dengan keluarga elu-elu pade. Belum lagi nih gue pernah baca artikel tentang sepasang induk gajah yang dibunuh lalu diambil gadingnya didepan anaknya. Melihat mayat kedua induknya dengan muka hancur bersimbah darah anak gajah tadi menangis dan terduduk lemas didekat induknya tadi. Setelah diselametin sama organisasi pecinta satwa, beberapa hari kemudian si gajah kecil ini meninggal karena stres dan gak mau makan. Gajah juga punya perasaan bro, ya hewan tuh punya perasaan sama kaya kita!. Gajah tu ye asal elu-elu pade tau ni ye, mereka punya memori dan emosional yang cukup baik. Gajah-gajah tadi dapat mengingat dan merasakan setiap peristiwa yang dialaminya baik itu sedih atau senang. Udah ahh lama-lama aku bisa nangis guling-guling ni kalo diterusin. Intinya sih menjaga, menyayangi, menghargai, dan mencintai hewan itu hukumnya wajib bukan sunnah, jadi engga perlu merasa aneh donk kalo ada orang yang mengekspresikan perasaan itu kepada hewan. Wajib juga lho ya bro and sist mencintai dan menjaga alam ini, tumbuhan dan hewan apapun mempunyai peranan tersendiri dalam keseimbangan ekosistem. Kalau salahsatunya kalian usik dan rusak apalagi tuh hewan-hewan tak berdosa kalian bunuh maka bersiaplah dengan kekuatan bulan….alam ini akan menghukum kalian!.

IMG_20140615_112846

         Ayok donk bro and sist hewan aja bisa mengekspresikan kasih sayang mereka kepada manusia masak loe kagak sih, kebangetan deh!. Gue cerita sedikit deh ya gimana mereka mengekspresikan kasih sayang mereka ke manusia. Pernah denger cerita anjing bernama Haciko dan Kucing bernama Toldo donk ya?. Mereka adalah contoh kecil hewan-hewan yang sangat setia dan mencintai pemiliknya. Walaupun pemilik Haciko sudah meninggal nih, tapi Haciko masih aja setia menunggu majikannya itu pulang dari kantor di stasiun kereta biasa pemiliknya itu tiba. Saking setianya nih, hampir tiap hari Haciko menunggu pemiliknya berharap pemiliknya turun dari kereta biasa ditumpanginya. Padahal kan pemiliknya sudah meninggal. Kalau Toldo nih, dia cuma seekor kucing biasa. Secara fisik engga ada yang istimewa dari Toldo, tapi lihatlah dari hatinya. Meskipun pemiliknya sudah meninggal tapi si Toldo ini hampir setiap hari mendatangi makamnya. Kadang Toldo membawakan hadiah berupa ranting-ranting pohon, dedaunan kering, gelas plastik, bahkan tisu toilet. Bagi sebagian besar orang mungkin hadiah-hadiah yang dibawa Toldo ke makam pemiliknya tadi engga berharga, tapi mungkin di alam sana pemiliknya Toldo tersenyum melihat perilaku kucing kesayangannya itu.

        Semoga aja tulisan gue yang ribet ini dapat mengetuk hati kalian ya bro and sist, bener banget nih kata-kata Mahatma Gandhi bahwa “Kebesaran suatu bangsa dapat dilihat dari bagaimana mereka memperlakukan hewan”. Jangan sampe deh dicap manusia lebih kejam dari hewan, kalau hewan membunuh untuk bertahan hidup kalau manusia membunuh untuk memenuhi hafsrat keserakahannya. Nah, bro and sist gak mau kan?.

_69611

Pesona Telaga-Telaga Dieng

      Jangan pernah ngaku sebagai traveller sejati kalau belum pernah berkunjung ke Dieng. Mungkin dulu Dieng belum begitu dikenal oleh masyarakat luas, tapi sekarang banyak banget yang berbondong-bondong ingin menikmati keindahan alam Dieng. Dataran tinggi Dieng adalah sebuah tempat indah yang masih alami dan berudara sangat sejuk berada pada ketinggian rata-rata 2.000 mdpal. Dataran tinggi Dieng berlokasi di Jawa tengah yang masuk dalam dua wilayah administrasi yaitu Wonosobo dan Banjarnegara sehingga dapat dijangkau dari dua kabupaten tersebut. Berbicara mengenai objek wisata di Dieng kayanya gak bakal ada habisnya, soalnya banyak banget objek wisata menarik disana. Kalau aku bilang sih setiap sudut di Dieng itu indah, romantis, eksotis, dan membahana. Kali ini aku akan berbagi mengenai perjalananku bersama sahabat-sahabatku mengunjungi beberapa telaga atau danau yang ada di Dieng. Perjalanan kami mulai dari Jogja, untuk mencapai Wonosobo kami harus melewati magelang dan temanggung. Baru sampai di Temanggung atmosfer pegunungan sudah terasa banget disertai udara sejuknya yang menenangkan jiwa-jiwa penat karena aktivitas perkuliahan. Perjalanan dari Jogja ke Wonosobo memakan waktu kurang lebih 3 jam. Kami berangkat sore dari Jogja sehingga sampai Wonosobo sudah malam. Kami memutuskan untuk beristirahat di rumah teman kami, untunglah kami punya teman di Wonosobo jadi tidak perlu booking hotel, hehe. Di pagi hari udara Wonosobo lumayan dingin tapi tak lama kemudian matahari muncul dari balik gunung sindoro dengan cahaya keemasannya yang hangat. Pemandangan yang menakjubkan itu dapat dilihat hanya dari halaman belakang rumah teman kami yang banyak ditumbuhi tanaman itu. Tak mau membuang waktu kami bergegas dan bersiap-siap untuk mengunjungi objek wisata yang pertama yaitu telaga Menjer. Telaga ini terletak di Kecamatan Garung tak jauh dari rumah teman kami yang berlokasi di Desa Manggisan. Sesampai di lokasi kami disambut gapura telaga menjer yang menunjukkan lokasi telaga yang akan kami kunjungi itu. Memasuki kawasan wisata menjer kami disuguhkan pemandangan yang sangat indah berupa vegetasi khas pegunungan seperti pinus dan cemara di kanan kiri jalan. Kebayang donk ya baru keluar dari mobil sudah disambut udara sejuk telaga menjer yang dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan hijau. Pemandangan telaga menjer dapat dinikmati dari tepian telaga yang ditumbuhi banyak rerumputan dan pepohonan yang menjulang tinggi, atau dengan menyewa perahu mengelilingi telaga. Dengan berjalan kaki kami mengelilingi area telaga dan duduk-duduk di tepian telaga sambil menikmati bekal makanan yang kami bawa . Lebih baik sih kalian berjalan mengelilingi tepian telaga soalnya pemandangannya lebih terasa selain itu kalian bisa guling-guling di rerumputan kaya princess syahrini. Untuk masuk telaga menjer cukup murah kok, saat itu kami hanya dikenakan biaya tiket Rp. 3rb/orang.

IMG_20130317_151438

telaga menjer
telaga menjer
IMG_20121130_110556
perahu di telaga menjer

Puas bernarsis-narsisan di telaga menjer kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan, telaga yang akan kami KUNJUNGI selanjutnya adalah telaga Warna yang berjarak cukup jauh dari telaga menjer karena masuk di kawasan Dieng. Untuk mencapai telaga warna kami membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit dari menjer. Dalam perjalanan kami kembali disuguhkan pemandangan yang menakjubkan, mobil kami berjalan di dataran dengan ketinggian lebih dari 2.000 mdpal sehingga kami dapat melihat daratan yang ada dibawahnya. Jalan berkelak-kelok dengan pemandangan di kanan kiri jalan berupa pegunungan dan perbukitan hijau karena banyak ditanami tanaman pertanian seperti kubis, kentang, wortel, tembakau, dll. Meski berlokasi jauh dari telaga menjer tapi perjalanan menjadi tidak terasa berkat pemandangan yang tidak pernah membosankan. Masuk di kawasan Dieng kami sempat ditawari tiket terusan, tapi kami malah nyelonong masuk aja kami memilih menggunakan tiket reguler. Lokasi telaga warna tidak jauh dari pos tiket terusan tadi, tiket masuk telaga warna saat itu cuma Rp. 5rb/orang. Taman-taman bunga menyambut kedatangan kami berjejer di dekat pintu masuk telaga warna. Hanya berjalan sebentar kami sudah bisa menikmati keindahan telaga warna. Telaga warna merupakan telaga vulkanik aktif. Konon dulu telaga ini berwarna-warni ada warna merah, ungu, biru, kuning, coklat dan hijau dalam satu telaga. Warna-warni pada telaga tersebut dipengaruhi oleh kandungan mineral, sulfur, dan biota yang ada di telaga tersebut. Tapi pas kami kesana hanya dapat melihat warna hijau dengan gradasinya saja, mungkin karena kurang dijaga ya makanya banyak warna yang hilang. Katanya warna di telaga ini juga gampang berubah-ubah tergantung unsur yang mempengaruhinya. Tak hanya menikmati pemandangan telaga saja kalian juga bisa jalan-jalan dikawasan telaga yang mirip hutan dengan banyaknya pohon-pohon pinus yang tinggi. Saat berjalan-jalan kami juga melihat beberapa goa-goa alami di area telaga warna dan patung beserta prasastinya. Masih ada lagi nih, kalian yang suka menguji adrenalin juga bisa ikut flying fox diatas telaga warna ini. Kebayang donk dengan hanya membayar Rp. 25rb kalian bisa flying fox membelah telaga warna yang sangat cantik ini. Bersebelahan dengan telaga warna terdapat telaga pengilon yang hanya dibatasi oleh pematang saja. Telaga ini mempunyai karakteristik yang berbeda dengan telaga warna, telaga pengilon mempunyai air yang jernih seperti pengilon (cermin). Lagi-lagi karena kurang dijaga dan dilestarikan pas kita kesana telaga ini sudah mengering hanya tersisa alang-alang bewarna coklat yang tumbuh disekitar telaga, sedih banget kan.

20140515_132324
gradasi warna telaga warna
20140515_132917
pemandangan telaga warna

20140515_134257 C360_2014-05-15-13-46-10-299 C360_2014-05-15-13-46-36-147 C360_2014-05-15-13-53-27-928

Telaga berikutnya yang kami kunjungi adalah telaga cebong. Telaga cebong terletak di kaki bukit sikunir yang sedang fenomenal itu. Bukit Sikunir sedang menjadi primadona untuk camping karena memang pemandangannya yang luar biasa indah. Pemandangan bukit dan telaga menyatu dalam satu kawasan. Kebayang donk camping depannya telaga dan kamu bisa menaiki bukit sikunir di pagi hari untuk menyaksikan sunrise dengan cahayanya yang keemasan. Disebut sikunir karena memang cahaya sunrise yang menyembul bewarna kuning keemasan jika dilihat dari puncak bukit ini. Telaga cebong ini kalau ga salah merupakan telaga terbesar di Dieng. Di sekitaran telaga ini banyak dilakukan aktivitas pertanian, gimana ga semakin eksotis tuh. Kalau ga mau camping kalian juga bisa booking penginapan yang berada di area Sikunir.

sikunir-dieng
sumber: https://sikunirdieng.wordpress.com/category/wisata-gunung-dieng/

20140501_132606

Sebetulnya masih banyak lagi telaga-tela indah yang dapat dikunjungi di Dieng seperti telaga Dringo dan telaga Merdada. Tapi karena hari sudah sore kami memutuskan untuk turun gunung kembali ke rumah teman kami sebelum kami kembali ke Jogja.

Surga Eksotis di Habitat Komodo

           Sudah sangat kunanti-nantikan tanggal 11 Oktober 2014, dimana saya akan memulai  sebuah perjalanan ke Timur Indonesia yang konon banyak pulau dan pantai yang eksotis. Beberapa informasi saya baca mengenai keindahan Timur Indonesia dari para blogger, dan perjalanan yang saya pilih adalah pulau Komodo. Para blogger dengan postingannya yang mengagung-agungkan keindahan pulau komodo membuat saya tertarik untuk segera kesana membuktikan sendiri keindahan pulau yang dihuni oleh kadal raksasa itu. Tiket pesawat sudah saya kantongi dari jauh-jauh hari, perjalanan saya mulai dari Jogjakarta ke Jakarta karena untuk menemui teman saya atau lebih tepatnya partner saya untuk travelling kali ini. Teman saya bang Anton saya memanggilnya sudah mengatur semua untuk perjalanan disana, mulai dari sewa kapal, guide, taxi, peralatan snorkeling dll yang dapat dipesan via online atau langsung ditempat. Sampai di Jakarta saat itu masih siang padahal untuk penerbangan selanjutnya masih pukul 17.30 WIB. Waktu yang banyak itu kita habiskan hanya di area bandara Soekarno Hatta dengan mencari informasi dari internet mengenai tempat yang akan kita kunjungi. Kita memutuskan untuk mengambil paket liburan dua hari satu malam yang akan dihabiskan diatas kapal (sailing trip). Untuk mencapai pulau Komodo kita harus melakukan penerbangan ke Denpasar Bali untuk selanjutnya melakukan penerbangan ke Labuan bajo. Sampai di Bali sudah pukul 22.30 WITA sedangkan penerbangan ke Labuan bajo masih jam 05.00 WITA, akhirnya kita menyewa hotel dekat bandara Ngurah Rai. Semalaman saya tidak bisa tidur nyenyak karena terbayang besok saya akan memulai perjalanan yang menakjubkan ke Labuan Bajo. Saat pagi hari kita langsung bergegas ke Bandara Ngurah Rai, pesawat garuda explore jet ukuran mini sudah menunggu kita untuk mengantar kita menuju Labuan bajo. Saat penerbangan dari Bali ke Labuan bajo mata ini tak henti-hentinya mengagumi keindahan dan keeksotikan pulau-pulau kecil dari pesawat. Betapa kayanya negeri kita ini, ratusan pulau-pulau kecil tersebar di hamparan lautan biru yang berkilau-kilau. Tiba di bandar udara Komodo Labuan bajo saat itu sudah pukul 08.00 WITA. Bandar udara Labuan bajo sudah mengalami banyak kemajuan seperti sarana dan prasarana. Melihat dari postingan para blogger yang telah terlebih dahulu kesana beberapa tahun silam menunjukkan bahwa bandar udara Labuan bajo yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu. Bandar udara Labuan bajo yang dulu lebih mirip kantor kecamatan sedangkan yang sekarang bangunannya sudah lebih modern. Keluar dari bandara kita sudah dijemput oleh taxi yang sudah kita pesan sebelumnya. Kita langsung diantar menuju ke agen persewaan kapal yang sudah kita pesan sebelumya, jarak dari bandara ke agen-agen persewaan kapal dan pelabuhan tidaklah jauh, hanya memerlukan waktu sekitar 5 menitan saja. Biaya taxi yang harus kita bayar adalah Rp. 50.000,00; untuk sewa alat-alat snorkeling adalah Rp. Rp. 60.000,00/orang. Sewa kapal kurang dari 4 orang akan dikenakan biaya yang cukup mahal untuk sebuah kapal standar yaitu sebesar Rp. 3 juta/orang, untung saat itu ada dua orang bule satu dari itali dan satu lagi dari perancis yang mau join kapal bersama kita. Berkat dua bule tadi yang ikut join kapal kita akhirnya biaya sewa kapal kita dibagi empat sehingga lebih murah, kami dikenakan biaya Rp. 850.000,00/orang. Baru sampai di pelabuhan Labuan bajo kita sudah disuguhkan dengan hamparan laut Labuan bajo yang biru dan indah dengan banyak kapal di dermaga dan kapal berlalu lalang. Kapal kami mulai berlayar dari pelabuhan Labuan bajo keberbagai tempat yang sangat kunanti karena konon sangat indah dan eksotis. Tempat wisata pertama yang akan kami kunjungi adalah pulau Rinca/Loh buaya. Dinamakan Loh buaya karena dulu disini adalah rawa-rawa yang menjadi habitat para buaya, tapi sekarang sangat jarang ditemukan seekor buaya disini. Loh buaya/pulau rinca ini adalah pulau yang dihuni oleh ratusan Komodo (Varanus komodoensis). Pulau ini juga merupakan pulau dengan populasi komodo terbanyak, meski habitat asli komodo ada di pulau Komodo. Komodo yang ada  di pulau Rinca adalah hasi dari pemindahan beberapa komodo yang ada di pulau komodo dan mereka berkembang biak di sini. Perjalanan dari pelabuhan menuju ke pulau Rinca memakan waktu kurang lebih dua jam, tapi kami tidak merasa bosan karena dari atas kapal kami disuguhkan laut yang biru berkilau-kilau dan dikanan kiri tersebar gugusan pulau kecil yang eksotis. Pulau-pulau tersebut bewarna coklat karena vegetasi semua mengering dimusim kemarau, hanya pohon bakau saja yang terlihat hijau yang hanya tumbuh dibibir pantai. Sesampai di pulau Rinca kita disambut beberapa ekor monyet yang lucu dibibir pantai sedang bergelantungan di dahan pohon bakau. Kami masuk melewati gapura yang terdapat patung Komodo yang sangat legendaris itu, hatiku semakin berdegup kencang serasa tak percaya hari ini saya akan segera menyaksikan sendiri “Naga-naga” yang cantik itu. Saya, bang Anton, dan kedua bule tadi semakin mempercepat langkah seakan kami sudah tidak sabar untuk memulai tracking mencari Komodo biasa bersarang. Di jalan kami bertemu dengan seorang ranger/jagawana yang akan menemani kami selama melakukan tracking di pulau Rinca. Sebelum tracking dimulai kita harus membayar tiket disebuah kantor kecil saat memasuki pulau rinca, tiket tersebut merupakan tiket terusan keberbagai tempat wisata. Turis lokal seperti saya dan bang Anton akan dikenakan biaya pengunjung Rp. 2.500,00; karcis tanda masuk pulau Rinca dan komodo Rp. 20.000,00; karcis olahraga air Rp. 40.000,00; karcis masuk kendaraan air Rp. 50.000,00; jasa ranger/pemandu Rp. 80.000,00 untuk satu tim dan satu tim maksimal lima orang. Di pulau Komodo sudah tidak dikenakan biaya tiket lagi, kami hanya dikenakan biaya ranger dengan harga sama seperti di pulau Rinca yaitu Rp. 80.000,00 untuk satu tim. Setelah administrasi tiket selesai kami mendapat penjelasan dari ranger mengenai peraturan, panjang tracking yang kami pilih, dan objek-objek yang akan kami temui selama tracking. Panjang tracking ada 3 macam yang pertama long track yaitu sekitar 7 km, medium track dan short track. Masing-masing rute/track akan kita jumpai objek-objek yang berbeda, menurut ranger medium track adalah yang paling bagus untuk melihat pemandangan sedangkan long track kita akan berjalan di kedalaman hutan. Setelah berdiskusi kita memutuskan untuk memilih long track. Waktu yang akan kami habiskan untuk long track di pulau Rinca adalah sekitar dua jam berjalan kaki. Perjalanan berbukit-bukit jadi kita harus menyiapkan stamina selama perjalanan karena cuaca juga sangat terik. Selama perjalanan mencari Komodo kami tak pernah merasa bosan karena kami lagi-lagi disuguhkan berbagai objek menarik yang sangat eksotis. Di kanan kiri terdapat banyak perbukitan, vegetasi kering, pohon palm, dan bakau, laguna dan hamparan laut yang terlihat dari atas bukit. Satu jam perjalanan kita belum menemukan apa yang kita cari yaitu Komodo, tapi selain Komodo banyak sekali hewan-hewan liar di pulau ini. Beberapa ekor rusa terlihat sedang memakan rumput-rumput hijau yang tersisa karena semua vegetasi mengering. Saat hendak mengambil sebuah gambar ternyata rusa-rusa itu menyadari keberadaan kita, satu ekor rusa berteriak keras memberi kode ke rusa-rusa lainnya bahwa ada bahaya lalu mereka lari kabur. Kami melanjutkan perjalanan sambil melihat kanan kiri barangkali ada komodo yang sedang berjemur, kami mendengar bunyi dedaunan yang digoyang-goyangkan kami kira itu adalah komodo yang sedang lewat semak-semak ternyata itu adalah seekor kerbau liar yang sedang memakan dedaunan. Kami melihat kerbau liar dari jarak aman dan kata ranger kerbau yang memiliki tanduk besar itu tidak akan membahayakan kita jika melihat dari jarak aman. Kerbau liar itu kehilangan tenaganya jika sudah siang dan matahari sudah terik, terlebih pasokan air tawar dan rerumputan sangat sedikit untuk makanannya. Kami melanjutkan perjalanan lagi lebih dalam ke hutan, kami melihat beberapa ekor burung liar bernama maleo dan ayam hutan yang sangat cantik. Kuda liar yang biasa terdapat di tepi-tepi danau atau pantai dapat ditemui di medium track jika beruntung, namun kami memilih long track jadi kami tidak bertemu dengan kuda-kuda liar itu. Sesaat kemudian ranger yang sangat jeli sekali matanya itu melihat ada seekor Komodo sedang bermalas-malasan dibalik pelepah daun yang kering. Saya merasa tak percaya melihat langsung Komodo yang legendaris itu langsung dari habitat aslinya. Kami diingatkan untuk tetap dijarak aman yaitu 5 meter dari hewan buas itu. Komodo dapat membahayakan manusia karena komodo memiliki gigi yang sangat tajam dan menyerupai kail untuk merobek daging mangsa. Komodo memiliki bisa berupa air liur yang terdapat banyak bakteri yang akan menginveksi mangsanya. Komodo hanya akan menggigit mangsanya kemudian Komodo itu menunggu mangsanya tersebut terinveksi oleh bakteri untuk kemudian memangsanya setelah hewan tersebut lemas atau mati karena terinveksi bakteri akibat gigitan Komodo. Hewan yang menjadi mangsa Komodo adalah rusa, kerbau liar, kera, bahkan ayam hutan. Komodo dapat berlari dengan kecepatan 20 km/jam, mempunyai indera penglihatan dan penciuman yang sangat baik. Komodo dapat mendeteksi mangsa dengan penciumannya hingga jarak 9 km, terutama bau darah. Pengunjung yang sedang datang bulan sebaiknya memberitahu ranger agar nantinya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama tracking. Komodo pertama yang kami lihat ini berukuran standar, karena ada yang lebih besar lagi kata ranger kami. Komodo jantan dan betina dapat dibedakan dari ukuran kepala dan ekor, biasanya Komodo jantan mempunyai kepala dan ekor lebih besar. Puas mengambil foto Komodo yang pertama kami lihat akhirnya kami melanjutkan perjalanan, beberapa meter dari Komodo yang tadi kami melihat lagi seekor Komodo sedang berjemur. Kata ranger memang Komodo akan susah ditemui jika sudah siang seperti ini karena matahari sudah terik mereka lebih senang bersembunyi. Perjalanan di pulau rinca akhirnya selesai dan jarak 7 km tidaklah terasa. Hanya dua ekor Komodo yang kami temui di alam liar, namun kita dapat menemukan banyak sekali Komodo dibawah bangunan rumah dan cafe-cafe maupun penginapan diarea pulau Rinca ini. Mereka bermalas-malasan dibawah kolong-kolong rumah yang berbentuk rumah panggung dan diantaranya terdapat Komodo yang berukuran sangat besar. Komodo-komodo tersebut datang kepemukiman karena mencium bau makanan dan daging yang dimasak oleh warga setempat. Pukul 12.00 WITA kami meninggalkan pulau Rinca untuk kembali ke perahu. Sebelum melanjutkan ke objek wisata selanjutnya, kami dikasih makan siang yang dimasak sendiri oleh kapten kapal. Menunya serba dari ikan dan rasanya sangat enak ternyata kapten kapalnya jago masak, bule saja nambah nasi tiga kali. Setelah perut terisi kita melanjutkan perjalanan kepantai berpasir pink dengan lama perjalanan sekitar 2,5 jam. Kapal kami mengalami masalah ditengah perjalanan, sang kapten membetulkan kapal sekitar setengah jam dan waktu setengah jam itu saya gunakan untuk tiduran diatas kapal sambil menikmati semilir angin laut. Sesampai pantai pink sudah pukul 16.00 WITA, dan langsung takjub melihat pasir pantainya yang benar-benar bewarna pink. Hanya terdapat tujuh pantai dengan pasir bewarna pink alami di dunia dan beruntung di Indonesia bisa kita temukan disini. Warna merah muda tersebut terjadi karena percampuran pasir putih dan tumbukan alami dari koral-koral/kerang bewarna merah. Kapal tidak diperkenankan melepaskan jangkar di area pantai sehingga untuk yang bisa berenang bisa menjangkau pantai dengan berenang atau snorkeling, jika takut berenang disediakan perahu kecil untuk mengantar ke bibir pantai yang berpasir pink itu dengan biaya kapal Rp. 25 rb pulang pergi. Kami habiskan waktu di pantai pink dengan snorkeling menikmati indahnya terumbu karang dan ikan warna-warni dengan air laut yang jernih. Sesekali kami menepi ke pantai bermain dengan pasir pantai dan duduk melihat matahari yang mulai tenggelam. Berenang di pantai pink juga harus waspada dan melihat-lihat sekitar kalau tidak ada komodo disekitar pantai, karena komodo juga dapat berenang. Pukul 17.30 WITA kami meninggalkan pantai pink untuk bermalam, tujuan awal kami adalah bermalam di pulau kalong. Pulau kalong terkenal keeksotikannya karena ribuan kelelawar/kalong beterbangan diatas langit menuju sebuah pulau yang tak berpenghuni ketika senja datang, namun tujuan kita kandas karena kita terlalu lama asik di pantai pink sehingga sudah kelewat sore untuk sampai ke pulau kalong. Kami akhirnya bermalam di pantai Nusa, karena tidak boleh berlabuh kami bermalam hanya diatas kapal di tengah lautan. Dari atas kapal saya memandangi langit yang sangat jernih tidak terkontaminasi polusi. Ditemani secangkir kopi khas flores yang dibuatkan kapten kapal saya mengamati rasi bintang scorpio yang nampak jelas, kopi khas flores ini memiliki cita rasa agak asam. semilir angin dari tengah laut dan deburan ombak dibibir pantai masih terdengar dari atas kapal ini membentuk paduan musik surgawi, sehingga perlahan mata ini mulai terpejam. Saat pagi hari datang kelopak mata ini seakan terangkat oleh cahaya samar matahari terbit dan seakan berkata “bangunlah dan lihat kemegahanku”. Dari atas kapal saya memandangi matahari terbit yang luar biasa indahnya dengan cahayanya yang hangat menyeka tubuh ini. Perjalanan kami lanjutkan ke pulau Komodo dengan lama perjalanan 1 jamdari tempat kita bermalam. Ditemani secangkir kopi dan hangatnya cahaya matahari saya sangat menikmati perjalanan ke pulau Komodo dan sesekali saya dapat melihat ikan-ikan dan terumbu karang ketika kapal melewati laut dangkal. Di perjalanan juga melihat burung bangau, burung kuntul, burung gagak yang bertengger di pohon bakau, tak ketinggalan beberapa ekor monyet terlihat di goa-goa dan bibir pantai di pulau-pulau kecil. Sesampai di pulau Komodo kami sudah dihadang oleh ranger dan seperti biasa langsung diberikan penjelasan seperti di pulau Rinca. Kami memilih medium track atas saran dari ranger karena medium track menawarkan pemandangan yang lebih indah melewati sulphurea hill dan kubangan air tempat para Komodo dan hewan liar lainnya berkumpul mencari sumber air. Berhubung masih sangat pagi jadi kami dengan mudah bertemu dengan Komodo, benar saja baru beberapa meter kami sudah menemukan seekor Komodo yang cukup besar sedang berjemur. beberapa meter dari komodo pertama tadi kami menjumpai kubangan air tempat hewan-hewan liar berkumpul, termasuk ada beberapa ekor komodo disitu. Kami melanjutkan perjalanan lagi, di Pulau komodo ini kami bisa lebih banyak menemukan hewan-hewan liar. Kami menemukan segerombolan rusa dan ayam-ayam hutan dimana-mana, lebih banyak daripada di pulau rinca. Kami juga melihat para monyet bergelantungan. Saya juga melihat bunga anggrek hutan yang sangat cantik. Sesampai di sulphurea hills kami beristirahat sejenak sambil menikmati keindahan hamparan laut dari atas bukit ini, kami juga menemukan seekor komodo sedang menuruni bukit ini menuju sumber kubangan air tadi. Kata ranger kami sangat beruntung sampai di pulau komodo masih pagi sehingga masih banyak hewan-hewan liar berkeliaran yang dapat kami saksikan, termasuk masih banyak komodo yang dapat dilihat di alam liar. Berkunjung ke Pulau Komodo sebaiknya jangan di bulan Mei-Juli karena itu periode mereka kawin, sehingga jarang ada yang terlihat di alam liar. Bulan Agustus-September adalah periode mereka bertelur, mereka akan bertelur di gua-gua atau membuat lubang besar untuk menyimpan telurnya. Mereka mengerami telurnya selama 8 bulan, paling lama dibanding reptil jenis lain. Setelah menetas bayi-bayi komodo secara insting akan menaiki dahan-dahan pohon untuk menghindari induknya, karena induk komodo akan sampai hati memakan anak-anaknya sendiri. Bayi komodo hidup di atas pohon-pohon sampai berumur tiga tahun, mereka memakan serangga bahkan burung yang hinggap di pohon. Puas tracking kami kembali ke kapal, di perjalanan menuju kapal banyak dijual souvenir berupa patung komodo, kain songket, kalung dari kerajinan kerang, mutiara yang gagal produksi karena bentuknya tidak bulat sempurna dirangkai menjadi gelang atau kalung dan dijual dengan harga lebih murah. Kerajinan souvenir seperti ini biasa dijual oleh anak-anak SD menggunakan sampan kecil mengunjungi kapal-kapal para turis termasuk kapal kami sejak dari pantai pink, kadang mereka dengan sekuat tenaga akan membujuk kita supaya membeli yang mereka tawarkan. Saya membeli dua buah kalung dengan kerajinan berbentuk komodo dari ukiran kerang dengan harga Rp. 20 rb dari harga awal Rp. 50rb/buah, jadi sistem tawar menawar tetap harus dilakukan agar memperoleh souvenir dengan harga murah. Perjalanan kami lanjutkan dari pulau Komodo ke Manta point, dimana kita bisa berenang bersama ikan-ikan manta. Perjalanan yang kami butuhkan untuk sampai ke manta point adalah 2 jam. Sesampai di sana kami langsung dapat melihat ikan-ikan manta dari atas kapal, karena air laut sangat jernih dan lumayan dangkal dengan pemandangan terumbu karang yang memanjakan mata. Ketika snorkeling saya melihat seekor ikan manta tepat dibawah saya yang lumayan besar dan sangat cantik. Hanya sebentar saja kami di Manta point karena arus laut di Manta point lumayan deras untuk perenang yang kurang handal seperti saya. Perjalanan kami lanjutkan ke objek wisata terakhir yaitu Kanawa island, disana banyak resort dan pemandangan pantai yang sangat indah. Saat perjalanan ke Kanawa kami sempat melihat seekor lumba-lumba yang melompat. Snorkeling di kanawa beach kami bisa lebih banyak melihat ikan dan terumbu karang warna-warni, terdapat pula bintang laut berukuran besar dan sekelompok bulu babi. Perjalanan di pulau Komodo ini memberikanku pengalaman yang sangat luar biasa dalam seumur hidup saya, pulau-pulau cantik, laut biru, terumbu karang warna-warni, sunset yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, dan sunrise yang bercahaya hangat dan eksotis. Tempat seindah dan seeksotis ini menurut saya masih sepi pengunjung dari dalam negeri, saya hanya menemukan sedikit turis lokal karena hampir 90% yang saya temukan adalah turis manca, sungguh disayangkan jika kita lebih memilih berlibur ke luar negeri padahal banyak tempat eksotis di negeri kita tercinta ini. Perjalanan kami pun selesai kami kembali ke labuan bajo. Sesampai di pelabuhan Labuan bajo kami harus berpisah dengan kapten kapal yang sudah menemani kita selama dua hari satu malam menyusuri indahnya surga di timur Indonesia, kita juga berpisah dengan dua bule tadi, sedih sekali ketika perjalanan telah usai tapi sangat puas dengan perjalanan ini. Kita menyewa hotel di Labuan bajo untuk semalam karena penerbangan ke Denpasar masih keesokan harinya. Malamnya kita bertemu dengan bule perancis yang satu kapal dengan kita, kami makan malam bersama. Bule tadi sangat terkesan dengan pulau komodo, dengan pantai-pantainya, dengan Indonesia. Bule tadi memesan rendang untuk makan malam, dia bilang Indonesia banyak tempat cantik dan eksotis, tak hanya itu makanan Indonesia sangat enak. Keesokan harinya sebelum kita pulang kita menyempatkan diri untuk belanja oleh-oleh di dekat bandara Labuan Bajo nama toko oleh-oleh tersebut adalah exotic, disana banyak sekali macam-macam souvenir seperti kaos, makanan khas flores, dll dengan harga lebih murah meskipun tempat belanjanya sudah cukup modern. Akhirnya pukul 10.00 WITA kami harus menyudahi petualangan di Kepulauan NTT yang sangat menakjubkan ini dan harus terbang ke Denpasar untuk selanjutnya pulang ke Jogja.

penerbangan DPS-LBJ
penerbangan DPS-LBJ
bandar udara LBJ
bandar udara LBJ
bandar udara LBJ
bandar udara LBJ
Memulai prjalanan dr pelabuhan labuan bajo
pelabuhan LBJ
pelabuhan LBJ
pelabuhan LBJ
perjalanan ke p.rinca
perjalanan ke p.rinca
perjalanan ke p. rinca
perjalanan ke p. rinca
perjalanan ke p. rinca
otw p. rinca
cropped-69501.jpg
tracking P. Rinca
tracking p. rinca
tracking p. rinca
vegetasi kering di p. rinca
vegetasi p.rinca
snorkeling pink beach
snorkeling pink beach
snorkelling pink beach
snorkelling pink beach
snorkeling pink beach
snorkeling pink beach
pink beach
pink beach
sunset dr atas kapal
sunset dr atas kapal
sunset dr atas kapal
sunset dr atas kapal
sunrise
sunrise
sunrise dr atas kapal
sunrise dr atas kapal
jalan pelabuhan menuju national park p. komodo
welcome to komodo
pintu masuk p. komodo
gateway
komodo
komodo
komodo
komodo
p. rinca
p. rinca
shulpurea hill
shulpurea hill
rusa lebih banyak ditemui di p. komodo
rusa di komodo
manta ray
manta ray
kanawa island
kanawa island

1413363803523

snorkeling pink beach
snorkeling pink beach
kanawa beach
kanawa beach
menu makan siang by kapten
masakan oleh kapten
penjual souvenir
penjual souvenir
loh buaya
loh buaya

worldwindows